Oleh: Abdur Rahman Soleh (Ketua Bidang RPK IMM FAI UAD 2024/2025
Surat al-Fatihah memiliki banyak nama dan nama-nama tersebut banyak yang menunjukkan kemuliaan pada surat tesebut.[1] Pertama dinamai dengan “Fatihah al-Kutub” (pembuka kitab) dinamai demikian karena sebagai pembuka dalam mushaf, pembelajaran, dibaca di dalam sholat, ada juga yang mengatakan bahwa surat ini adalah surat pertama yang diturunkan dari langit.
Kedua “surah al-Hamd” dinamai demikian karena diawali dengan lafadz al-hamd. Ketiga adalah “Umm al-Qur’an” dinamai demikian disebabkan beberapa hal salah satunya adalah asal dari segala sesuatu, maksudnya adalah penjelasan tentang 4 perkara yaitu: ilahiyyah, mi’ad (tempat kembali), nubuwwat dan qadha dan qadar.
Ilmu Qiraat
Ilmu qira’at sebagaiman yang dijelaskan oleh ‘Abdul Fatah al-Qadi dalam al-Budur al-Zahirah fi Qira’at al-‘Asyr al-Mutawatirah merupakan ilmu yang membahas tentang tata cara pengucapan kata-ata al-Qur’an berikut cara penyampaiannya, baik yang disepakati maupun yang diikhtilafkan dengan cara menyandarkan setiap bacaannya kepada salah satu imam qiraat[2].
Dari definisi tersebut kita bisa memahami bahwasannya qira’at al-Qur’an merupakan salah satu ilmu yang membahas ragam bacaan di dalam al-Qur’an yang disandarkan kepada salah satu imam qira’at terdapat perbedaan dari segi bacaan, dan bacaan tersebut ada yang diterima dan ada juga yang ditolak.
Dari perbedaan bacaan tersebut ada yang berhubungan dengan cara pengucapan huruf (dialek) maupun perbedaan bentuk kosakata atau bentuk kalimat. Menurut Jalâluddin al-Suyûthi, perbedaan tersebut adakalanya berkaitan dengan substansi lafadz atau berkaitan dengan lahjah atau dialek. Perbedaan qirâ’ât yang berkaitan dengan substansi lafazh bisa menimbulkanperbedaan makna, sementara perbedaan qirâ’ât yang berkaitan dengan lahjah (dialek) kebahasaan tidak menimbulkan perbedaan makna seperti bacaan tashil, imalah, taqlil, tarqiq, tafkhim dan sebagainya.[3]
Variasi Bacaan Surat al-Fatihah
Surat al-Fatihah juga tidak lepas dari pembahasan ilmu qira’at seperti yang dijelaskan oleh al-Imam al-Jalil Abi Zur’ah ‘Abd ar-Rahman ibn Muhammad ibn Zanjalah dalam kitabnya Hujjah al-Qira’at, beliau menjelaskan secara rinci setiap perbedaan bentuk kosakata dan bentuk kalimat beserta alasan-alasannya. Berikut penjelasannya:[4]
Pertama, lafadz Malik “مالك “
Imam ‘Ashim dan Imam al-Kisai membacanya dengan alif setelah mim dan imam yang lain membacanya dengan tanpa alif setelah mim. Alasannya karena sebagaimana di ayat yang lain tidak menggunakan alif seperti di surah an-Nas dan al-Juma’ah الملك القدوس, ملك الناس .
Alasan lain sebagaimana disebutkan oleh Abu ‘Ubaid bahwa setiap raja (مَلِك) adalah pemilik (مَالِك) dan tidak semua pemilik (مَالِك) adalah raja (مَلِك). Seseorang yang memiliki tanah atau baju dan lain sebagainya tidak dinamai sebagai raja melainkan orang yang memiliki atau pemilik.
Sedangkan alasan dibaca مَالِك dengan alif karena lafadz مَالِك mencakup الملك (kerajaan) sehingga الملك menjadi sesuatu yang dimilikinya, seperti firman Allah “اللّهم مَالِكَ المُلك” artinya Wahai yang maha Pemilik Kerajaan. Imam al-Akhfasiy menyebutkan bahwa lafadz مَالِك disandarkan pada lafadz seluruh makhluk, seperti “هو مالك الناس و الجنّ و الحيوان” artinya Dialah pemilik manusia, jin dan hewan.
Kedua, lafadz “صراط” .
Kata صراط dalam ayat ke 5 dan 6 surat al-fatihah ada 3 cara membacanya. Pertama dibaca dengan huruf shod ( صراط) , kedua dengan dibaca uruf sin( سراط ) , dan ketiga dengan dibaca isymam dengan huruf zai ( صراط) .
Dibaca dengan huruf shod karena telah ditulis di semua mushaf dengan huruf shod. Pada bacaan yang kedua, Imam Ibn Katsir di dalam riwayatnya al-Qawwas membacanya dengan huruf sin, hal ini karena huruf sin tersebut merupakan sesuatu yang asal( الأصل ). Sesuatu yang asal tidak diganti dengan sesuatu yang bukan asal (cabang). Diriwayatkan bahwa Ibn Abbas membacanya dengan huruf sin. Dibacaan yang ketiga Imam Hamzah membacanya dengan isymam dengan huruf zai, sedangkan pengertian dari isymam disini adalah berbaurnya huruf shod dengan zai.
Ketiga, lafadz ” عليهم”.
Pada ayat ini terdapat perbedaan dalam lafadz ‘alaihim. Imam Hamzah membacanya dengan ‘alaihum (عَلَيْهُمْ) dengan dibaca dlommah huruf Ha, Ibn Katsir membacanya ‘alaihimu ( (عَلَيْهِمُو dengan dibaca kasrah huruf ha dan dlommah pada huruf mim dengan disambung huruf wawu. Dan yang lain membacanya ‘alaihim
(عَلَيْهِمْ ) dengan dibaca kasrah huruf ha dan sukun pada huruf mim.
Lafadz عليهم asalnya adalah عليهمو dengan dibaca dlommah huruf ha dan mim. Dlommahnya ha menunjukkan jenis mudzakkar (laki-laki) dan jika di fathahkan maka menunjukkan jenis muannats (perempuan) seperti lafadz رأيتها.
Alasan dibaca عَلَيْهُمْ dibaca dommah ha dan sukunnya mim karena asalnya adalah dibaca dlommah lafadz tersebut kemudian agar menjadi ringan maka dibuang huruf wawu dan harokat dlommah.
Alasan dibaca عَلَيْهِم dlommahnya ha setelah huruf ya dianggap berat maka huruf ha diaksrahkan agar menjadi ringan. Alasan yang lain adalah jika huruf ha terletak setelah huruf ya dan atau kasrah maka huruf ya tesebut dikasrahkan seperti lafadz بِهِ عَلَيهِ,الَيهِ .
Abu Amr membacanya dengan kasrahnya ha dan mim “عَلَيهِمِ” , Imam Hamzah dan al-Kisai membaca dlommah keduanya “عَلَيهُمُ”, dan imam yang lain membaca kasrahnya ha dlommahnya mim “عَلَيهِمُ” .
Wallahu ‘Alamu bi ash-Shawab.
[1] Al-Imam Fakhr ad-Din ar-Razi, at-Tafsir al-Kabir, (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah,2004), Juz 1, hal. 145
[2] ‘Abdul Fatah al-Qadi al-Budur al-Zahirah fi Qira’at al-‘Asyr al-Mutawatirah, (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Arabiy,1981), Juz 1, hal. 7
[3] Romlah Widayati, ” PERAN QIRA’AT DALAM MENAFSIRKAN AYAT-AYAT AL-QUR’AN”, Al-Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, hal. 5
[4] al-Imam al-Jalil Abi Zur’ah ‘Abd ar-Rahman ibn Muhammad ibn Zanjalah, Hujjah al-Qira’at, (Beirut: al-Resalah, 1997), hal. 77