Fanatisme Bangsa Arab dan Pengaruhnya terhadap Dinamika Politik Timur Tengah

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Oleh: Moh. Amirulloh

 

 

 

Kondisi Bangsa Arab Pra-Islam & Islam

Bangsa Arab Pra-Islam dikenal dengan istilah Arab Jahliyyah dengan kata lain Arab pada masa sebelum Islam dihuni dengan rasa fanatisme kesukuan yang amat besar. Ibnu Saad mengatakan bahwa β€œBangsa Arab jahiliyyah dan permulaan islam menilai bahwa orang yang sempurna adalah yang dapat menulis, berenang, dan melempar panah”.[1] Bahkan Ibnu Habib al-Baghdadi sempat menulis nama-nama bangsawan pada masa jahiliyyah dan permulaan islam.[2]

Dalam catatan lain di buku tersebut juga dikatakan bahwasanya bangsa Arab pra-Islam dikatakan sebagai bangsa yang penuh dengan kebodohan, hal ini disebabkan karena tidak ditemukanya catatan yang menggambarkan bangsa arab jahiliyyah dalam bentuk tulisan.

Namun penulis kurang sepakat dengan konteks catatan yang ditulis oleh Azami dalam bukunya itu. Penulis meyakini bangsa Arab telah mengenal praktek tulis menulis, hanya saja pada saat itu praktek baca dan tulis menulis belum menjadi tradisi, sehingga tidak dinilai penting oleh masyarakat sehingga tidak juga menjadi tolak ukur kecerdasan seseorang pada saat itu.

Secara geneologi (Syajarah) keturunan bangsa Arab terbagi menjadi dua golongan besar. Pertama, berasal dari keturunan Qathan yaitu golongan Qathaniyyun yang berada di bagian wilayah selatan. Kedua, keturunan Ismail bin Ibrahim yang dikenal dengan golongan Adnaniyyun yang berada di wilayah bagia utara.

Namun daalam perkembanganya kedua golongan ini dapat saling berbaur akibat karakter bangsa Arab yang berpindah-pindah (Nomaden) pada saat itu. Pada masa itu tradisi tulis menulis dapat dikatakan sangat langka, hanya segelintir orang saja yang melakukan praktek ini, hingga beberapa abad kemudian Islam datang dengan menguatkan tradisi tulis menulis dikalangan bangsa Arab. Namun tidak bisa dikatakan tidak ada, hanya saja praktek tersebut jarang dilakukan oleh orang Arab.

Catatan yang ditulis oleh Azami dalam bukunya tersebut[3] dirasa kurang tepat oleh penulis sebab apabila dikaji secara lebih luas, Makkah pada saat itu dianggap sebagai kota kosmopolitan, pusat perdagangan bangsa Arab, dan seringkali dilewati oleh kafilah dagang. Sehingga pandangan azami dapat dikatakan kurang kuat karena mengesampingkan konteks sosial-politik Arab. Senada dengan Shubhiy al-Shalih yang berpendapat bahwa catatan yang memuat hal ini pasti tidak dikaji dengan komprehensif, melainkan perkiraan yang masih samar-samar. Apalagi jikalau kembali ke sejarah peradaban pra-Islam, maka dapat diperkirakan bahwa jumlah orang Arab yang melek huruf , tentu lebih banyak lagi.[4]

Adapun dalam konteks pemerintahan, dalam sejarahnya bangsa Arab sangat sulit untuk bersatu. Ada beberapa faktor yang mendasari hal ini, salah satunya yaitu fanatisme kesukuan yang berlebihan sehingga ego saling menguasai sangatlah tinggi dikalangan bangsa arab. Dalam sejarah Arab bersatu hanya terjadi satu kali yakni pada masa ketika dipimpin oleh Muhammad SAW.

Pasca wafatnya Muhammad, keadaan bangsa Β arab kembali ke sifat aslinya. Hal ini dibuktikan dengan beberapa fakta sejarah dimana hal pertama yang dilakukan oleh Abu Bakar sebagai pemimpin pasca Muhammad adalah berperang dengan Nabi Palsu yang juga dari golongan Arab.

Penulis menemukan catatan alasan kenapa Musailamah selaku nabi palsu ini memiliki banyak pengikut padahal jelas dikatakan bahwa umatnya pun mengetahui apa yang dilakukan oleh Musailamah ini merupakan kebohongan belaka, sebab menurut pengikutnya Musailamah adalah bagian dari suku yang sama denganya,[5] sehingga kaumnya mempunyai beban moral untuk mendukungnya. Hal ini menunjukkan amat mengerikanya fanatisme kesukuan bangsa Arab.

Di era modern pun fanatisme kesukuan bangsa Arab masih sangat kental. Tahun 1928 bangsa Indonesia yang pada saat itu belum merdeka telah mencanangkan persatuan dengan Sumpah Pemudanya, tetapi di sisi lain Ibnu Saud dan pengikutnya melakukan serangkaianya kampanye untuk mengambil alih wilayah Arab dari tangan Syarif Hussein (Gubernur Hijaz) dan berhasil menghancurkan Syarif Hussein serta mendirikan negara Arab Saudi.

Namun tidak berhenti saat itu saja, setelah beberapa generasi kepemimpinan Arab Saudi masih getol untuk melakukan hegemoni di tanah Arab. Lihat bagaimana hubungan antara Arab Saudi dengan Emirat Arab yang saling berlomba menunjukkan eksistensi negaranya kepada dunia. Atau lihat bagaimana Arab Saudi sangat getol sekali menghancurkan Yaman sebab perbedaan pandanganya. Penulis menganggap fanatisme kesukuan inilah salah satu yang menghambat persatuan dan kesatuan bangsa Arab.

Inisiasi Ideologi Tunggal

Pasca terbentuknya negara-negara modern di wilayah Arab, beberapa kali dilakukan wacana untuk penyatuan Arab menjadi satu kesatuan, namun tidak pernah terwujud bahkan selalu berakhir dengan peperangan antar bangsa Arab. Pada tahun 1958 sempat terbentuk Republik Arab Bersatu yang dikomandoi oleh Gamal Abdel Nasser dari Mesir, tetapi hanya Suriah yang bergabung itu pun hanya seumur jagung, sebab pada tahun 1961 Suriah menarik keluar dari Republik gabungan tersebut.

Berbagai gagasan dari Pan-Arabisme hingga Pan-Islamisme tidak mampu menjadikan negara-negara Arab solid. Gagasan yang dibawa oleh Gamal Abdel Nasser untuk menyatukan Arab dengan Pan-Arabismenya bahkan tidak mampu menjadikan Suriah bertahan apalagi menarik negara-negara arab lainya bergabung menjadi satu negara.

Faktor fanatisme dan ego menjadi poin utama, hal ini dibuktikan dengan pasca keruntuhan Utsmaniyyah sempat diadakan konferensi untuk mendirikan khilafah baru dengan menggabungkan negara-negara Arab dalam satu bendera, namun lihat apa yang terjadi hanyalah konflik yang berkepanjangan. Bahkan setelah terbentuknya Organisasi Liga Arab pada tahun 1945 tetap saja tidak mampu membendung fanatisme bangsa Arab yang sudah mengakar.

Kita mundur beberapa tahun sebelumnya, pada tahun 1936 M pasca perang dunia pertama, muncul tokoh-tokoh pembaharuan yang mulai melakukan gerakannya, dimulai dari gagasan Al-Afghani di bawah bendera Pan-islamismenya, para pengikutnya mulai melakukan suatu upaya untuk mewujudkan gagasan gurunya itu.

Arabi Pasha dari Mesir memimpin gerakan perlawanan terhadap Inggris, Reza Shah Pahlevi yang berusaha menyatukan Nasionalisme Mesir dengan ajaran Syiah, hingga Houari Boumedine dari Al-Jazair yang menggagas sosialis-nasionalis Islam di Al-Jazair. Bahkan murid utamanya Muhammad Abduh sangat getol menyebarkan gagasan gurunya itu lewat buku Urwatul Wutsqa.

Ikhwanul Muslimin dan Upaya Gerakan Penyatuan Arab

Ikhwanul Muslimin atau persudaraan Muslim merupakan sutu gerakan yang didirikan oleh Hassan al-Banna di Mesir sebagai wujud dari upaya mengikat kembali orang-orang Islam dalam satu khilafah. Pada awal pendirianya ikhwanul muslimin terfokus dalam masalah keagamaan hingga kemudian secara perlahan Ikhwanul Muslimin masuk kedalam ranah politik dengan klaim ingin mengakhiri pemerintahan Inggris di Mesir kala itu, dengan sloganya β€œIslam adalam solusi”. Puncaknya adalah ketika Ikhwanul muslimin bergabung dengan Gamal Abdel Nasser untuk menggulingkan Raja Farouk yang berkuasa di Mesir kala itu, dan berhasil.

Pasca keruntuhan rezim Raja Farouk, Gamal Abdel Nasser berkuasa, tetapi pada titik inilah terjadi pergesekan antara Gamal Abdel Nasser dengan Ikhwanul muslimin. Hal ini berkaitan dengan otoritarianisme yang dilakukan oleh Gamal Abdel Nasser, banyak kebijakan Abdul Naser yang bertolak belakang dengan keinginan Ikhwanul Muslimin, diantaranya yakni banyaknya pejabat dari kalangan militer yang mengisi pos-pos penting di pemerintahan, sehingga hal ini menimbulkan gejolak antara Ikhwanul Muslimin dengan Abdul Naser.

Kelompok ini secara perlahan mampu mengguncang negara-negara lainya, hingga muncul kelompok-kelompok serupa di berbagai negara dengan visi yang sama denganya. Pasca wafatnya Hassan al-Banna yang tiba-tiba, kelompok ini kemudian dianggap sebagai pemberontak, bahkan di Mesir kelompok ini direhabilitasi dan dihancurkan, hingga puncaknya kelompok ini dicap sebagai gerakan separatis (pemberontak).

Beberapa kali para pembesar negara-negara Arab berupaya untuk menyatukan bangsa Arab menjadi satu kesatuan dibawah satu kepemimpinan, namun nampaknya hal itu hanya akan menjadi utopis saja.

Β 

Penutup

Dilihat dari berbagai problem yang terjadi, agaknya sangat sulit untuk kembali menyatukan bangsa Arab menjadi negara kesatuan sebagaimana yang pernah terwujud di era kepepimpinan Muhammad Saw. Banyak faktor yang menghalangi hal tersebut terjadi. Selain faktor internal, ada juga faktor eksternal yakni yang berkaitan dengan geopolitik Timur Tengah yang dapat dikatakan sangat panas. Namun bukan berarti hal itu tidak mungkin untuk diwujudkan, hanya saja untuk saat ini wacana persatuan arab hanyalah sesuatu yang sifatnya utopis saja.

Berbagai macam upaya dalam kembali menyatukan negara-negara Arab sejak keruntuhan khilafah Islamiyyah yang terkahir yakni Utsmaniyyah runtuh, tetapi ideologi nasionalisme barat yang mulai merasuk kedalam sendi-sendi bangsa Arab mampu menghalangi terwujudnya hal itu.

Namun demikian bukan berarti ideologi Nasionalisme itu adalah penyebab kekisruhan Timur Tengah, hanya saja karakter bangsa arab yang keras serta fanatik dengan datangnya ideologi nasionalisme itu menjadikanya lebih keras lagi dalam mengupayakan kepentinganya dan sukunya.

Maka tidak heran mengapa Israel yang notabene satu-satunya negara Yahudi di kelilingi mayoritas negara Muslim tersebut dapat dengan mudah mengobrak-abrik Palestina, bukan karena Israel bangsa yang pemberani, melainkan mereka sangat memahami betapa negara-negara disekelilingnya tidak akan mungkin menyerangnya, sebab negara-negara Arab sedang sibuk membangun eksistensi bangsanya sendiri-sendiri.

Sebagai penutup, penulis menganggap bahwa masa depan kemajuan pemikiran Islam bukan lagi terletak di dataran Arab, melainkan negara-negara non arab yang masih teguh memegang nilai-nilai keislaman yang diwariskan oleh Muhammad SAW, Indonesia mungkin jadi salah satunya.

[1] Asmuni, Yusran (1996). Dirasah Islamiyyah II. Jakarta: PT. Raja Grapindo Persada, Hal 33

[2] Azami. (1994). Hadis Nabawi dan Sejarah Kodifikasinya. Jakarta: PT. Pustaka Firdaus. Hal 234

[3] ibid

[4] Saifuddin (2011). Arus Tradisi Tadwin Hadist dan Historiografi Islam. Yogyakarta:Pustaka Pelajar. Hal 245

[5] Tarikh khulafa, As-Syuthi

Sambut Musyawarah Komisariat, IMM FAI UAD Selenggarakan Semarak Musyawarah Komisariat Ke-XXI


Pimimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Fakultas Agama Islam Universitas Ahmad Dahlan (PK IMM FAI UAD) suskes menyelenggarkan Semarak Musyawarah Komisariat (Musykom). Rangkaian Semarak Musykom ini dilaksanakan sejak bulan Oktober 2023 sampai dengan bulan November 2023. Continue reading “Sambut Musyawarah Komisariat, IMM FAI UAD Selenggarakan Semarak Musyawarah Komisariat Ke-XXI”

Tingkatkan Skill Literasi dan Digital, IMM FAI UAD Hadirkan Kelas Literasi Digital

Bidang Riset Pengengembangan dan Keilmuan (RPK) serta Media dan Komunikasi (Medkom) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Komisariat Fakultas Agama Islam UAD Yogyakarta mengadakan Kelas Literasi Digital (KLD), dengan tema β€œImprove your basic skills to advance” yang dilaksanakan pada Sabtu, 10 Juni 2023 pagi dan berakhir pada siang harinya di Laboratorium Komputer FAI UAD. Continue reading “Tingkatkan Skill Literasi dan Digital, IMM FAI UAD Hadirkan Kelas Literasi Digital”