Beauty Standard Belenggu Diskiriminasi Terhadap Perempuan

kompasiana.com

Oleh: Amalia Lutfiani (Anggota Bidang RPK 2022/2023)

Perempuan dan kecantikan merupakan satu kesatuan yang saling memaknai satu dengan yang lainnya. Cantik merupakan suatu predikat yang diperoleh setelah terpenuhi standar kecantikan, biasanya kecantikan tersebut merujuk pada bentuk fisik yang dimiliki seseorang.

Kecantikan akan selalu terikat dengan kultur, sosial dan budaya serta berubah sesuai ruang dan waktu. Standar kecantikan atau beuty standard merupakan syarat atau karakteristik yang disesuaikan dengan gender untuk memenuhi standar tertentu.

Sehingga hal itu akhirnya membentuk ekspetasi kita bahwa perempuan perlu memenuhi standar untuk dikatakan cantik. Dengan adanya ekspetasi masyarakat terhadap standar kecantikan maka akan menimbulkan diskriminasi sosial terhadap perempuan yang dituntut untuk memenuhi standar kecantikan pada umumnya.

Kecantikan sebagai sifat feminim sebenarnya telah berakar kuat dalam sistem sosial yang lebih luas dan terprogram secara budaya. Pertama, masyarakat menetapkan standar kecantikan perempuan. Standar ini diturunkan dari generasi ke generasi, berakar dan terinternalisasi, disebar luaskan oleh media dan industri kecantikan dengan bentuk iklan model yang tidak realistis seperti menambahkan eksposure yang berlebihan agar kerutan dan kekurangan yang dimiliki model tidak terlihat oleh penonton.

Kedua, masyarakat menuntut perempuan untuk menjadi cantik sesuai standar yang sudah ditetapkan. Sejak kecil, perempuan diberi tuntutan yang dibungkus dalam bentuk pujian dan penguatan seperti kerap kali terdengar: ”Ah makin cantik saja tambah dengan pita renda yang manis itu”.

Ketiga, perempuan diajarkan bahwa menjadi cantik adalah sesuatu yang mendatangkan reward atau sering kita mendengar dengan sebutan β€œBeauty Privillege”. Beuty Privillege yaitu keuntungan dalam kehidupan seseorang yang memiliki penampilan menarik secara fisik.

Terdapat beberapa faktor yang melatar bekalangi terciptanya standar kecantikan saat ini. Faktor yang pertama yaitu lahir dari sudut pandang laki-laki.

Standar kecantikan yang dipengaruhi oleh budaya patriaki, di mana kedudukan laki laki diatas perempuan atau bisa juga disebut dengan male gaze. Dengan demikian situasi tersesebut lahirlah konsepsi bahwa perempuan harus β€˜cantik’ untuk memikat lawan jenisnya. Perempuan dituntut untuk β€˜sempurna’ (putih, tinggi, langsing) agar mendapat penghargaan dari lingkungannya.

Faktor kedua yaitu pengaruh kapitalisme. Standar kecantikan yang digembor-gemborkan lewat media daring maupun luring yang dikemas melalui iklan-iklan produk kecantikan. Trend kecantikan modern yang yang mematok tubuh wanita yang langsing berkulit putih merupakan bentuk pelanggengan kapitalisme.

Dengan demikian kapitalisme memanfaatkan kebutuhan akan ekstensi agar definisi cantik itu memberikan ilusi terhadap perempuan untuk mengejar standar kecantikan yang dibentuk oleh kapitalisme itu sendiri. Sehingga perempuan berlomba-lomba menjadi konsumtif dan hal tersebut menjadiΒ  bisnis yang menguntungkan bagi kapitalisme.

Faktor ketiga yaitu kolonialisme. Dahulu kita pernah dijajah oleh bangsa berkulit putih dan menanamkan fikiran bahwa mereka yang berkulit putih lebih superior dibanding kulit gelap atau sawo matang.

Kemudian apa penyebab adanya diskriminasi terhadap beuty standard perempuan? Diskriminasi memiliki banyak bentuk mulai dari mengucilkan, membeda-bedakan atau bisa juga berupa lontaran ujian kebencian. Tentu tuntutan kecantikan masyarakat kepada perempuan dalam hal bentuk tubuh dan kecantikan berdampak buruk bagi kesehatan mental perempuan.

Mulai dari harga diri yang rendah sampai pada ganggguan anorexia, nervosa, bulimia bervosa, body dysmorphic, dan gangguan kepribadian histronik. Hal tersebut diakibatkan oleh kecemasan akan ketidaksempurnaan.

Sehingga perempuan yang merasa dinilai tidak memiliki beuty standard yang telah dibentuk budaya patriarki akan merasa dunia tidak adil. Sesorang perempuan jika dinilai sudah mempunyai standar kecantikan pada umumnya akan mendapatkan reward berupa beuty privillage sehingga ada istilah β€œdunia hanya milik si cantik”.

Perundungan kepada perempuan yang tidak memenuhi standar kecantikan merupakan penindasan yang terjadi pada tubuh alami manusia. Kita sebagai manusia tidak bisa berdiskusi dulu dengan tuhan ingin tercipta seperti apa dan hal tersebut tidak bisa dingaggu gugat.

Standar kecantikan yang dibentuk oleh budaya patriarki merupakan sebuah penjajahan atas keindahan alami manusia. Untuk menolak diskriminasi dari standar kecantikan yang dibentuk oleh patriarki mari kita mulai dengan mencintai apa yang telah tuhan berikan kepada kita dengan mencintai diri sendiri dan tidak menghakimi diri sendiri.

Nilai perempuan tidak hanya ditentukan dari kecantikannya. Jangan jadikan kecantikan sebagai tirani, kita bukan tahanan dalam tubuh kita sendiri. Berhentilah membandingkan satu sama lain dengan berkompetisi siapa yang lebih cantik dan pantas di pandang masyarakat.

Kecantikan yang merupakan kata sifat, mulai sekarang kita harus bentuk sebagai kata kerja yang harus dipatenkan. Lingkungan sosial harus membentuk kata cantik itu hadir atas pencapaian dan prestasi dalam hidupnya bukan sebagai sesuatu yang bersifat kodrati.

Begitu juga lingkungan pendidikan harus mampu menjadi institusi yang menolak diskriminasi gender dan pelanggengan patriarki melalui ilmu ilmu yang diajarkannya. Begitu juga media yang telah menjadi andil besar dalam menjadikan standarisasi kecantikan.

Media mesti merevisi dan membentuk kembali kesadaran mengenai standar kecantikan yang telah dibetuk oleh budaya patriarki. Media harus membuat lingkungan dan budaya yang adil bagi perempuan.

Sebagai penutup izinkan kita mecintai diri kita sendiri apa adanya, cantik ataupun tidak cantik menurut standar masyarakat. Kemampuan untuk jujur dan tulus dengan diri sendiri, dan membebaskan diri dari belenggu budaya patriarki. Bebaskan diri dari pandangan orang lain yang menuntut diluar batas kemampuan kita, atas dasar dari cinta diri, dan cinta diri diperlukan untuk dapat mengasihi orang lain.

 

Penyunting: Irvan Chaniago